Postingan

Filosofi Metamorfosis

Sebuah Kisah (diceritakan oleh guru saya yang paling sabar, Ustadz Anas) Suatu hari, seseorang duduk mengamati kepompong yang dengan segera akan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu cantik. Kepompong itu terpecah sedikit demi sedikit hingga samar-samar terlihatlah bakal sayap kupu-kupu yang indah. Namun sang calon kupu-kupu itu terlihat sangat susah payah keluar dari kepompong. Sehingga orang tersebut merasa kasihan. Karena tak sanggup menonton kerja keras sang calon kupu-kupu, ia pun bangkit dari duduknya lalu membantu sang calon kupu-kupu untuk keluar dari kepompong, dia menggunting kepompongnya. Tak perlu usaha keras dan hanya butuh waktu singkat, keluarlah kupu-kupu tersebut dengan sayap kerdil yang berkerut, tak seperti sayap kupu-kupu pada umumnya. Orang tersebut lalu tersenyum karena merasa telah membantu dan berdalih bahwa sayapnya akan merekah seiring berjalannya waktu. Betapa menyesalnya orang itu ketika mendapati bahwa sang kupu-kupu tersebut tak bisa terbang. Sayapnya yan...

Metaforfosis

Setiap manusia akan menjalani proses dari kehidupannya masing-masing. Seperti metamorfosa kupu-kupu yang berawal dari telur, lalu menetas menjadi ulat, lalu beranjak menjadi kepompong, dan akhirnya keluar menjadi kupu-kupu yang indah. Maka sepatutnyalah, kita menikmati setiap proses yang terjadi dalam hidup ini. Di pelataran gedung pinisi -Universitas Negeri Makassar. Aku melihat ribuan mahasiswa baru (maba) yang kini memakai jas almamater berwarna  orange . Bagaikan tumpahan sirup jeruk yang siap diminum tuk pelepas dahaga. Mereka menyunggingkan senyum ceria dengan tatapan mata yang berbinar. Seakan mengumumkan pada dunia, bahwa mereka telah melewati satu tahap dari metamorfosa kehidupannya, menyandang gelar mahasiswa. Mungkin aneh, jika aku meminta salah seorang dari kalian tuk bertukar posisi. Aku ingin kembali menjadi maba, walau kebanyakan orang menganggap “maba” adalah kata yang lebih horor dari film insidious 3. Entahlah, apakah karena sederetan pengaderan yang diwajib...

Agar Hujan Lebih Bermakna

Agar Hujan Lebih Bermakna Sekarang kita telah memasuki musim penghujan. Dan mungkin sebagian orang ada yang tidak suka dengan hujan. Mereka mungkin beralasan karena cucian tidak kering, jalanan licin, dan lain sebagainya. Tapi, cukup banyak juga tuh orang yang lebih senang dijuluki  Pluviophile. Yah, mereka adalah orang-orang yang merasa senang dan candu pada hujan. Saya pun termasuk bagian dari mereka, dan mungkin kamu juga, hehe. Kita suka dengan hujan karena udaranya dingin, membuat pikiran jadi tenang, atau karena  petrichor - aroma tanah yang menyeruak saat hujan. Untuk lebih tepatnya, kita lihat saja esensi hujan dari Yang Menciptakannya. “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih” (QS. Al-Furqan/25:48). Daripada hanya sekadar menjadi  Pluviophile  yang ngegalau, mending kita jadikan hujan lebih bermakna. Caranya bagaimana ? tenang saja, kita kan...

Seni Bergembira II

Cara untuk memperoleh kebahagiaan selanjutnya adalah dengan bersabar. Benteng terkokoh menghalau ribuan panah kritikan dari orang lain adalah kesabaran. Ia merupakan sangat mujarab mengobati sayatan dari caci maki orang lain. Pintu dari kesabaran ini adalah pikiran positif dan hati yang jernih. Hiduplah hari ini dan jangan terjebak dalam lubang kelam masa lalu. Hiduplah har ini dan jangan mengkhayalkan masa depan. Kebahagiaan bisa didapatkan dengan menghargai kehidupan kita hari ini sebab luka masa lalu hanya bisa diobati hari ini dan impian masa depat hanya dapat dicapai dengan usaha kita hari ini. Maka hargailah kehidupanmu hari ini. Ada orang-orang yang berkata berkata: “Kita ini tidak pendendam, hanya perbuatan buruk itu susah untuk dilupakan”. Bagaimana mungkin kita hidup bahagia jika sisa-sisa masa lalu belum termaafkan dengan lapang ?. Otak kita membutuhkan ion positif untuk membuat hati menjadi tentram. Sehingga, kebersihan otak dan hati adalah kunci dari kesabaran. Kit...

Seni Bergembira

Dalam buku Dr. ‘Aidh al-Qarni yang berjudul “La Tahsan”, dikatakan bahwa kegembiraan adalah seni yang dapat dipelajari oleh semua orang. Dimana ketika kita mengetahui cara mendapatkannya, maka ia akan sangat bermanfaat kepada kehidupan kita. Tak pernah terpikirkan jika kegembiraan adalah sebuah seni drama yang akan sukses dijalankan melalui latihan-latihan para aktornya. Tak hanya itu, drama kian bermakna ketika ada kerja sama di antara setiap aktor. Jika kegembiraan adalah drama, lalu alasan apa yang paling tepat untuk tidak bergembira hari ini ?. Mudah saja, kita hanya butuh latihan bak aktor drama yang akan segera pentas. Ada beberapa latihan yang dapat dilakukan agar kita dapat mementaskan kegembiraan. Yang pertama adalah dengan mengingat Allah “ Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang (Q.S. Ar-Ra’d.28)”.  layaknya seorang aktor drama, yang selalu mengingat naskah dramanya, maka hatinya akan tenang. Allah telah memberikan kita naskah yang tak sekad...

Perbatasan Dua Alam (Last)

Kami mulai memasuki pemakaman dengan ucapan salam yang sama pada perjalanan sebelumnya. Pemakaman ini lebih ramai pengunjung dengan beragam usia mulai dari anak kecil hingga lanjut usia. Saya berjalan di belakang rombongan sambil menoleh kanan kiri menyimak segala aktivitas dan deretan kuburan yang beraneka ragam bentuk dan warnanya.  Senyumku sedikit mengembang jika melihat nama yang terukir pada batu nisan sedikit berbeda dari nama pada umumnya seperti Isahi, La Mekka. Lirikan mataku terhenti pada kuburan yang di permukaannya terdapat beberapa potong bunga, juga uang recehan. Ini makam anak kecil ditandai dengan batu nisan yang kecil.  Di samping kuburan itu tak kalah unik lagi, selain bungan dan uang koib, ada juga beberapa bungkus permen berwarna  pink.  Seketika saya mengembangkan senyum karena teringat kisah sewaktu kecil saya dan kakakku sering mengambil uang dan permennya  hehe,  kami selalu dapat marah dari orang tua kalau kedapatan. Padahal mereka...

Perbatasan Dua Alam (III)

Alhamdulillah sepertinya saya sangat sayang sama ibu karena melaksanakan yang sudah kuberitahukan kepadanya. Ibu duduk meghadap kiblat di sela-sela kuburan dan mulai mengangkat tangan untuk berdoa. Saya pun melakukan hal yang sama. Setelah itu, kami duduk sebentar sambil bercerita tentang nenek buyut ku itu. Seperti tujuan awal, ibu menjelaskan bahwa ini adalah ibu dari ibunya, dia tinggal di pegunungan sejak zaman penjajahan.  Cerita kami seketika dihentikan oleh kedatangan kakekku yang juga punya tujuan yang sama dengan kami. Setelah melakukan tradisi seperti tadi, kakekku lebih hebat menjelaskan tentang nenek buyutku ini. Nenek buyutku ternyata tidak makan daging dan ayam tapi tidak juga herbivora sepenuhnya karena dia tetap makan ikan dan udang. Mereka kemudian tertawa karena ada salah seorang dari cucunya yang seperti itu. Kami melanjutkan perjalanan dengan menempuh jalan yang lebih terjal lagi untuk berziarah ke kuburan selanjutnya. Perjalanannya lebih sulit karena lebih terd...